Sejarah Bendera Sang Saka Merah Putih, Simbol Negara dan Upaya Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

- Jumat, 5 Agustus 2022 | 21:00 WIB
Sejarah Bendera Sang Saka Merah Putih, Simbol Negara dan Upaya Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (reinaldoreinhart/ pixabay.com)
Sejarah Bendera Sang Saka Merah Putih, Simbol Negara dan Upaya Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (reinaldoreinhart/ pixabay.com)

 

JemberNetwork.com – Menjelang hari kemerdekaan, simbol negara berupa bendera Sang Saka merah putih sering dibahas arti dan sejarahnya.

Bendera Sang Saka merah putih dijahit oleh Ibu Fatmawati. Bendera tersebut menjadi bendera pertama yang digunakan untuk pengibaran bendera pada Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Bertempat di Jakarta, Jl. Pegangsaan timur 56 yang saat ini berubah nama menjadi Jl. Proklamasi.

Bendera Sang Saka merah putih menyimpan nilai historis yang tinggi terhadap sejarah kemerdekaan Indonesia. Keberadaan bendera tersebut dilatarbelakangi oleh penjanjian memproklamasikan kemerdekaan dengan Jepang pada tanggal 7 September 1944.

Kemudian perjanjian tersebut ditindaklanjuti melalui sidak tidak resmi yang dipimpin oleh Ir. Soekarno pada tanggal 12 September 1944. Sidak dihadiri oleh Chuoo Sangi In yang merupakan badan pemerintahan yang membantu pendudukan Jepang, badan tersebut terdiri dari orang Jepang dan Indonesia.

Baca Juga: Dari Hiroshima, Nagasaki ke Rengasdengklok, Sejarah Panjang Proklamasi Kemerdekaan RI

Pertemuan yang dipimpin oleh bapak proklamasi Indonesia tersebut membahas mengenai aturan pemakaian bendera Sang Saka merah putih dan lagu kebangsaan Indonesia. Pertemuan tersebut menghasilkan Panitia bendera Kebangsaan merah putih dan Panitia Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Bendera Sang Saka merah putih dijahit oleh Fatmawati usai dirinya sekeluarga kembali dari pengasingan di Bengkulu ke Jakarta. Bendera tersebut berbahan katun halus berwarna merah dan putih.

Bendera Sang Saka merah putih mempunyai panjang 300cm dan lebar 200cm. Pada tanggal 13 November 2014, bendera tersebut diukur ulang sehingga menghasilkan ukuran akhir panjang 276cm dan lebar 199cm.

Atas permintaan Ir. Soekarno kepada kepala barisan propaganda Jepang (Sendendu) yang bernama Shimizu, memerintahkan Chaerul Basri mengambil kain dari gudang di Jalan Pintu Air untuk mengantarkan kain tersebut ke Jl. Pengangsaan No.56, Jakarta lokasi pengibaran bendera.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Kemdikbud.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X